Menjelajah Kota yang Hilang Ingatan
Makassar selalu dipromosikan sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia timur. Gedung-gedung tinggi terus bertambah, kawasan bisnis meluas, dan wajah kota berubah dengan cepat. Namun, di balik kemajuan itu, muncul pertanyaan yang jarang kita renungkan: apakah Makassar sedang tumbuh, atau justru perlahan kehilangan ingatannya?
Ingatan sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip atau buku sejarah. Ia hidup pada bangunan tua, nama jalan, tradisi masyarakat, bahasa, kuliner, hingga cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika semua itu menghilang, sebuah kota mungkin tetap berkembang secara ekonomi, tetapi kehilangan identitas yang membuatnya berbeda dari kota-kota lain.
Makassar sebenarnya masih memiliki sejumlah penanda sejarah yang bertahan. Fort Rotterdam, misalnya, menjadi saksi perjalanan Kerajaan Gowa-Tallo, kolonialisme Belanda, hingga Indonesia modern. Benteng yang dahulu bernama Benteng Jumpandang itu kini menjadi museum dan kawasan cagar budaya yang relatif terawat.
Namun, tidak semua warisan sejarah seberuntung Fort Rotterdam.
Salah satu contohnya adalah Gedung Societeit de Harmonie. Bangunan yang didirikan pada 1896 ini pernah menjadi pusat pertunjukan seni, musik, dan kehidupan sosial masyarakat kolonial. Dalam perjalanan panjangnya, gedung tersebut berganti fungsi menjadi kantor pemerintahan, sekretariat organisasi kepemudaan, bioskop, hingga gedung kesenian. Setiap perubahan fungsi membawa konsekuensi terhadap perubahan fisik bangunan dan hilangnya sebagian karakter aslinya. Kini bangunan itu masih berdiri sebagai cagar budaya, tetapi kisah besarnya semakin jarang dikenal generasi muda.
Makassar juga kehilangan banyak bangunan kolonial lain akibat pembangunan perkotaan. Sejumlah rumah toko tua di kawasan pelabuhan, bangunan perdagangan di sekitar Pecinan, gudang-gudang bersejarah, hingga rumah-rumah panggung tradisional telah berganti menjadi ruko modern, hotel, atau pusat komersial. Pergantian itu mungkin memberi nilai ekonomi, tetapi sekaligus menghapus lapisan sejarah yang tidak mungkin dibangun kembali.
Yang lebih mengkhawatirkan justru hilangnya warisan budaya tak benda.
Bahasa Makassar dan Bugis masih digunakan, tetapi semakin banyak keluarga perkotaan yang tidak lagi mengajarkannya sebagai bahasa sehari-hari. Anak-anak lebih akrab dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa asing, dibanding bahasa ibu mereka sendiri.
Tradisi angngaru, yaitu ikrar kesetiaan dan keberanian yang dahulu menjadi bagian penting dalam budaya Makassar, kini lebih sering dipentaskan sebagai atraksi penyambutan tamu daripada menjadi ekspresi budaya yang dipahami maknanya. Demikian pula berbagai permainan tradisional, sastra lisan, pantun, hingga cerita rakyat yang dahulu hidup di beranda rumah, kini tergantikan oleh layar gawai.
Tradisi maritim masyarakat Makassar pun mengalami perubahan besar. Kota yang dahulu dikenal sebagai pelabuhan rempah dan pusat pelayaran Nusantara perlahan menjauh dari identitas baharinya. Kehidupan pesisir berubah menjadi kawasan reklamasi, pusat bisnis, dan permukiman padat. Hubungan emosional masyarakat dengan laut tidak lagi sekuat generasi sebelumnya.
Ironisnya, masyarakat sering baru menyadari nilai sebuah warisan ketika ia telah hilang. Ketika sebuah bangunan tua diratakan alat berat, ketika seorang maestro seni wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya, atau ketika tidak ada lagi anak yang mampu melafalkan syair tradisional, penyesalan selalu datang terlambat.
Pelestarian tidak berarti menolak modernisasi. Kota-kota besar dunia membuktikan bahwa pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan konservasi sejarah. Justru kawasan bersejarah yang dirawat sering menjadi pusat ekonomi kreatif, pariwisata budaya, dan kebanggaan warga.
Makassar memiliki modal besar untuk itu. Kota ini memiliki sejarah Kerajaan Gowa-Tallo, pelabuhan internasional, jejak kolonial, tradisi maritim, seni tutur, kuliner, hingga keragaman etnis yang membentuk identitasnya selama berabad-abad.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Makassar akan terus berkembang. Kota ini hampir pasti akan terus bertumbuh. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah ketika pembangunan selesai, kita masih dapat mengenali Makassar sebagai Makassar?
Sebab sebuah kota kehilangan jiwanya bukan ketika bangunan baru berdiri, melainkan ketika masyarakatnya berhenti mengingat apa yang pernah membuat kota itu istimewa.(/JT)
Comments
Post a Comment