Menjelajah Kota yang Hilang Ingatan
Makassar selalu dipromosikan sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia timur. Gedung-gedung tinggi terus bertambah, kawasan bisnis meluas, dan wajah kota berubah dengan cepat. Namun, di balik kemajuan itu, muncul pertanyaan yang jarang kita renungkan: apakah Makassar sedang tumbuh, atau justru perlahan kehilangan ingatannya? Ingatan sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip atau buku sejarah. Ia hidup pada bangunan tua, nama jalan, tradisi masyarakat, bahasa, kuliner, hingga cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika semua itu menghilang, sebuah kota mungkin tetap berkembang secara ekonomi, tetapi kehilangan identitas yang membuatnya berbeda dari kota-kota lain. Makassar sebenarnya masih memiliki sejumlah penanda sejarah yang bertahan. Fort Rotterdam, misalnya, menjadi saksi perjalanan Kerajaan Gowa-Tallo, kolonialisme Belanda, hingga Indonesia modern. Benteng yang dahulu bernama Benteng Jumpandang itu kini menjadi museum dan kawasan ...